Wednesday, 24 October 2012

Review ; SISI BISNIS PRAKTIK AUDIT

. Wednesday, 24 October 2012 .


Sisi Bisnis Praktik Audit
Profesi atau Bisnis?
Zaman berubah 40-50 tahun yang lalu jumlah akuntan publik masih sedikit Akuntan register masih dibawah angka 400. Kebanyakan dari mereka bekerja dilembaga pengawasan negara (DAN) atau sebagai akuntan intern di perusahaan. Banyak di antara mereka yang menjadi akuntan publik juga mengajar di perguruan tinggi negeri sebagai bagian dari WKS (Waktu Kerja Sarjana).138
Perpaduan antara akuntan publik (yang masih sangat sedikit) dan peran akademisi memeberi warna pada perilaku praktisi audit. Mereka bangga, berbicara tentang profesi disakralkan sebagai sesuatu yang tidak terkontaminasi oleh bisnis. Bisnis adalah kata “kotor”.
Para praktis menerima imbalan berupa fee. Oleh karena itu, mereka harus membahas fee dengan klien sebelum menerima penugasan. Namun, sikap mereka adalah “Pelaksana pekerjaan secara profesional itu yang pertama dan yang terutama bagaimana dengan fee. Fee bukan soal, ia akan datang sendiri (sebagai konsekuensi) dari pemberian jasa professional yang baik. Begitulah kira-kira argumen tentang hubungan antara profesi (dan sikap profesional).

Fee Pressure dan Komoditas: Tanda-tanda Zaman
Situasi 40-50 tahun yang lalu yang digambarkan tadi, sudah berubah. Perubahannya bukan semata-mata karena pertambahan jumlah akuntan publik. Dalam kunjungan ke Redaksi Suara Pembaharuan, Tia Adityasih (ketua Umum IAPI) menginformasikan

Indonesia sangat minim akuntan publik. Baru ada 905 orang atau 0,00038% dari Jumlah penduduk Indonesia.
Penduduk Singapura 5 Juta jiwa akuntan publik 13.120 orang; Filipina 88 Juta jiwa akuntan Publik 15.020 orang; Thailand 66 juta jiwa, akuntan publik 6.070n orang; Malaysia 25 juta jiwa akuntan publik 2.460 orang, dan vietnam 85 juta jiwa akuntan publik 1.500 orang.
Tentu saya, pembaca Suara Pembaharuan bisa mempertanyakan apakah perbandingan (ratio) antara jumlah akuntan publik di suatu negara dengan jumlah penduduk negara dengan jumlah penduduk negara tersebut merupakan indikasi cukup/tidak cukupnya atau berlebih/tidaknya jumlah akuntan publik di negara itu? Ini mungkin ratio yang cocok untuk profesi kedokteran yang melayani manusia. Untuk profesi akuntan publik, ratio, antara jumlah akuntan publik dengan jumlah entitas (yang menggunakan jasa akuntan publik dalam rangka akuntabilitas) lebih relevan. Entitas ini bisa perusahaan swasta, BUMN, BUMD, lembaga negara (misalnya Pemda) yang memerlukan jasa akuntan publik. Atau, kita dapat menggunakan proxy dari jumlah entitas tersebut, misalnya jumlah CEO atau CFO dan pemimpin lembaganya.

Kebijakan Fee Audit IAPI
Kebijakan fee audit IAPI tertuang dalam Surat Keputusan Ketua Umum tanggal 2 Juli 2008. Kebijakan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi profesi, yakni masih adanya penetapaan fee yang rendah.
Lampiran SK Ketua Umum IAPI butir 2 menegaskan (garis bawah dari penulis):
“Panduan ini dimaksudkan untuk membantu Anggota dalam menetapkan imbla jasa yang wajar sesuai dengan martabat profesi akuntan publik dan dalam jumlah yang pantas untuk  dapat memberikan jasa sesuai dengan tuntutan standar profesional akuntan publik yang berlaku. Imbal jasa yang terlalu rrendah atau secra signifikan jauh lebih rendah dari yang dikenakan oleh auditor/akuntan lain, akan menimbulkan keraguan mengenai kemampuan dan kompetensi Anggota dalam menerapkan standar teknis dan standar profesional yang berlaku.”
Fee Tinggi atau Rendah ?
SK Ketua IAPI diatas mencerminkan kekhawatiran profesi terhadap KAP yang membebankan fee rendah (low balling). IAPI berupaya memberikan pemahaman mengenai bagaimana menghitung fee dan pengaruh negatif terhadap martabat profesi jika fee audit dengan sengaja ditetapkan rendah.
Cara pandang profesi dan regulator mengenai fee audit, tidak selalu sama.
Regulator profesi audit di dunia umumnya berpendapat bahwa independensi auditor dikorbankan melalui ketergantungannya pada jasa-jasa non-audit dan fee audit yang berlebihan (“ excessive” audit fees). Sebaliknya, akademisi berpendapat bahwa para regulator “lupa” bahwa jasa non-audit yang diberikan incumbent auditor justru dapat meningkatkan mutu audit; para regulator juga tidak mempertimbangkan kerugian bagi auditor yang mau mengorbankan independensinya. Pandangan dunia akademika didasarkan atas kajian empiris.

Fee Jangan Dibayar Auditee
Untuk menghindari masalah hilangnya independensi auditor, ada saran bahwa fee audit jangan dibayarkan oleh auditee. Saran ini didasarkan pada pendapat bahwa opini auditro, khususnya yang bukan pendapat wajar tanpa pengecualian, mendorong auditee untuk menekan atau mengacam auditor; ancaman in dapat berupa penggantian KAP tersebut dengan KAP lain. Penggantian merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup KAP, dan pada gilirannya, pemilik KAP bisa “mengalah” kepada keinginan auditee.
Pendapat dan saran sebelumnya dikemukakan beberapa praktisi di Indonesia. Ada praktisi yang memberikan saran seperti itu, tetapi untuk pertimbangan lain. Mereka menyarankan fee audit tidak dibayar oleh auditee untuk menghindari persaingan tidak sehat melalui low balling. Dalam hal ini ada kerancuan penalaran, karena kalau issuenya adalah lowballing maka pemecahannya bukanlah pada siapa yang membayar fee melainkan siapa yang menetapkan fee.
Sebagai ilustrasi, BPK menugaskan KAP mengaudit BUMN. Apakah masalah Low Balling akan hilang jika BPK membayar fee audit kepada KAP? Atau BPK hanya menetapkan besarnya fee dan BUMN bersangkutan yang membayar fee tersebut.
Argumen tentunya sangat dapat diperdebatkan. Memang ada berbagai pendapat mengenai hubungan antara penunjukan auditor dan penetapan serta pembayaran feeaudit di sisi, dan independensi auditor di sisi yang lain.

Faktor Lain yang Menekan Fee
Selalu akan ada auditor atau akuntan lain yang dapat menegosiasikan fee yang lebih baik dari rekannya atau pesaingnya. Hal ini terjadi diantara KAP dan kelompok KAP (Big4, Mild-size firms, dan seterusnya) maupun antar0partner dalam KAP yang sama.
            Persepsi mengenai jasa audit sebagai komoditas. Hal ini tidak berbeda dengan obat manjur yang hak patennya berakhir dan sekarang dijual bebas. Sebaliknya, obat generik yang dijual sebagai obat bermerek. Brand name dari KAP menjadi penting. Beberapa KAP lokal sebenarnya berhasil menciptakan brand name. Sayangnya, upaya ini dihancurkan oleh ketentuan perundang-undangan tentang rotasi KAP.

Meta-regression Analysis tentang Audit Fee
Banyak sekali penelitian tentan audit fee. Riset tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan audit fee sangat banyak. David Hay mencatat hampir 200 makalah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah dan publikasi profesi. Ini belum termasuk makalah seminar yang tidak melalui pengeditan ilmiah.
            Kajian-kajian ini meneliti masalah seperti audit quality atau independence, dengan menggunakan model yang menggambarkan hubungan antara audit fees dengan berbagai variable yang menjadi minat si peneliti, dengan controls untuk ukurann (size), kerumitan (complexity), dan tingkat resiko (riskiness) dari entitas yang laporan keuangannya diaudit.
            Review atas penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa auditing research hanya mempunyai dampak yang sangat terbatas terhadap public policy. Review tersebut memperkirakan bahwa dampak yang terbatas itu mungkin sekali disebabkan oleh hasil riset yang bertentangan satu sama lain.
            Hay menggunakan meta-regresion analysis untuk memecahkan masalah penelitian mengenai audit fee tersebut di atas. Banyak temuan dari kajian-kajian (yang begitu banyak jumlahnya) mempunyai implikasi publik policy yang signifikan. Contoh jasa-jasa non-audit sudah umum dipercaya berkaitan dengan hilangnya auditor independence, dan beberapa otoritas percaya bahwa para auditor menurunkan audit fee mereka untuk menarik cients dan mendapat akses kepada peluang untuk pekerjaan consulting.
Meta- analysis menunjukkan tiga ciri atau atribut yang berkaitan dengan penetapan besarnya audit fee, yakni ciri klien (client attributes), ciri auditor (auditor attributes), dan ciri penugasan (engagement attributes).
Penentu Besarnya Audit Fee
Client Attributes
Auditor Attributes
Engagement Attributes
1.    Size
2.    Complexity
3.    Ingherent Risk
4.    Profitability
5.    Leverage and Liquidity
6.    Internal Audit
7.    Corporate governance
8.    Industry
1.    Big Four
2.    Individual firms
3.    Specialization
4.    Tenure
5.    Location
1.     Audit problems
2.    Non-audit service
3.    Lag
4.    Busy season
5.    Number of reports

Berpikir kritis Mengenai Sisi Bisnis
Praktisi audit berpikir kritis dalam mencari alternatif solusi untuk masalah yang dihadapi kliennya. Kalau mereka memperlakukan sisi bisnis dari praktik mereka sebagai klien yang lain, mereka akan dapat menemukan solusi untuk bisnis mereka sendiri.

Benahi KAP dengan Culling
Anda dapat melakukan culling terhadap klien, partner, dan staff. Kriterianya sangat sederhana. Apakah mempertahankan mereka sebagai klien, partner, dan staff masih akan menguntungkan KAP? Kalau tidak, culling sudah saatnya dilakukan. Sebagai akuntan Anda tidak akan kesulitan menghitung biaya keseluruhan untuk melakukan culling, dan manfaatnya. Culling juga bermanfaat untuk kedua belah pihak.
            Culling terhadap klien dilakukan ketika KAP: a) Menilai risiko untuk mempertahankan klien terlalu besar; fee  sebesar apapun tidak seimbang lagi dengan risiko yang dihadapi; b) Fee tidak seimbang dengan jasa-jasa yag diberikan. Ini sering kali terjadi pada perusahaan yang menjadi klien pada awal pendirian KAP. Banyak jasa yang diberikan kepada mereka, tidak dibebankan fee atau diberikan pro deo; c) Klien tumbuh sangat cepat, dan ukuran KAP tidak lagi memadai untuk menaganinya.
            Pertimbangan untuk culling terhadap partner dan staf sangat jelas, dan karenanya tidak perlu dibahsa lagi. Dengan pendekatan yang tepat, partner dan staf justru akan berterima kasih karena mereka mempunyai peluang yang lebih baik di tempat lain.
            Kombinasi  dari culling terhadap klien di satu pihak dan culling terhadap partner dan staf di pihak yang lain, adalah membuat ratio client per partner atau ratio client per staff menjadi lebih sehat. Ini membuat kinerja bisnis dari KAP trsebut membaik secara dramatis.

Pilihan Metodologi
Istilah metodologi mengingatkan kita pada teknologi. Memang teknologi dapat memperbaiki sisi bisnis KAP melalui peningkatan kecepatan, ketepatan (akurasi), efisiensi penyebaran data, perlindungan terhadap kerahasiaan data, dan seterusnya. Tidak jarang, keunggulan ini diakui oleh klien atau masyarakat bisnis sehingga menghasilkan keunggulan intangible.
            Perbaikan metodologi bisa juga dari pendekatan auditnya. Hal ini yang paling sederhana, membuat pengaturan dengan klien untuk menyiapkan perincian atau jadwal yang dibutuhkan. Auditor merancang secara detail apa yang diperlukannya, menjelaskannya kepada klien beserta tenggat waktunya (deadline), dan menindaklanjutinya. Dengan membuat perincian-perincian, bagan akuntansi klien mengecek keakuratan data mereka sendiri. Ini merupakan proses edukasi bagi klien yang perlu dijelaskan dengan baik bagi auditor. Proses ini merupakan win-win solution.
            Perbaikan metodologi yang paling penting, dengan dampak meningkatkan efisiensi dan efektivitas audit adalah pada pemilihan audit prosedur dan audit teknik. Review analitis. Misalnya, sangat efektif untuk memetakan masalah audit di klien. Review analitis yang baik biasanya dihasilkan oleh tenaga profesional berpengalaman (manajer atau partner) dan/atau tenaga profesional yang berspesialisasi. Mereka memang tenaga mahal, tetapi keterlibatan mereka akan meningkatkan mutu audit, disamping efisiensi dan efektivitas audit.

Artikel Terkait

2 comments:

Anonymous said...

"Trimakasih, Post'nya sngat brmanfaat...

Lybar Naufal Shidiq said...

thanks,,sgt bermnfaaat...

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 
{http://www.atchokers.blogspot.com} is proudly powered by Blogger.com | Template by Adrianto | o-om.com